Jakarta — Di tengah pesatnya perkembangan teknologi, pelaku Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) di Indonesia mulai menunjukkan ketangguhan luar biasa berkat adopsi transformasi digital. Berdasarkan data Kementerian Koperasi dan UKM, lebih dari 20 juta pelaku UMKM kini telah memanfaatkan platform digital untuk memperluas jangkauan pasar, baik domestik maupun internasional.
“Digitalisasi bukan lagi pilihan, melainkan kebutuhan,” ujar Menteri Koperasi dan UKM, Teten Masduki, dalam acara Digital UMKM Summit 2025 yang digelar di Jakarta, Kamis (16/10). “Kami mencatat peningkatan signifikan dalam omzet UMKM yang telah go digital, rata-rata naik hingga 40% dalam satu tahun terakhir.”
Kolaborasi antara pemerintah dan platform digital seperti Tokopedia, Shopee, GoTo, serta marketplace global seperti Amazon dan Etsy menjadi kunci keberhasilan ini. Program pelatihan literasi digital, pendampingan branding, hingga akses pembiayaan berbasis teknologi turut mempercepat proses adaptasi pelaku UMKM.
Salah satu contoh sukses datang dari UMKM batik asal Yogyakarta, “Batik Candra Kirana,” yang kini mampu mengekspor produknya ke Jepang dan Prancis setelah mengikuti program ekspor digital yang difasilitasi oleh KemenkopUKM dan mitra platform.
“Dulu kami hanya jual di pasar lokal. Sekarang, pesanan datang dari luar negeri. Semua berawal dari pelatihan online yang diadakan pemerintah,” ungkap Rina Wijaya, pemilik Batik Candra Kirana.
Meski demikian, tantangan masih menghantui. Kurangnya akses internet di daerah 3T (Terdepan, Terluar, Tertinggal), keterbatasan kemampuan bahasa asing, serta minimnya pemahaman tentang logistik internasional menjadi hambatan utama.
Untuk itu, pemerintah berencana meluncurkan program “UMKM Go Global 2.0” pada awal 2026, yang akan menyasar 500 ribu pelaku UMKM di seluruh Indonesia dengan pendekatan berbasis wilayah.